Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jelang Haul, Remaja Masjid Al-Mujahidin inisiasi ziarah rutin ke makam Syeikh Ali Basalamah



Jatibarang, Puluhan orang berkumpul, berdzikir, dan bermunajat Kepada Allah SWT di pelataran makam Almaghfurlah Syeikh Ali Basalamah yang berlokasi di perbatasan Kabupaten Brebes dan Kabupaten Tegal tepatnya di sudut Desa Jatibarang Kidul Kecamatan Jatibarang, Jum’at kliwon dini hari tadi (20/03). Ziaroh seperti ini merupakan tradisi yang sudah biasa dilakukan oleh santri-santri beliau dan masyarakat menjelang peringatan Haul Syeikh Ali bin Ahmad Basalamah setiap tahunnya. Ketua Remaja Masjid Al-Mujahidin Jatibarang Kidul, Sahabat Shobib Zayyadi menuturkan, “Ziaroh menjelang haul malam tadi ada yang spesial dari pada tahun-tahun sebelumnya, karena bertepatan dengan malam jum’at kliwon terakhir sebelum puasa Ramadlan.” Tandasnya.

Kemudian dia menambahkan, “Ziarah rutin tiap malam jum’at kliwon merupakan program baru dari IRMA (Ikatan Remaja Masjid Al-Mujahidin) Jatibarang Kidul untuk bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah dan mengharap ridho-Nya, serta untuk memohon kepada Allah agar kita semua dan masyarakat segera terbebas dari wabah penyakit / virus corona yang sedang melanda di Indonesia dan ratusan negara di dunia.” Lanjut dia yang akrab dipanggil Kang Shobib.

Ritual pembacaan Yasin, tahlilan, dan sholawat Nabi dipimpin oleh Ust. Ali Ahmad Basalamah (Cucu Syeikh Ali bin Ahmad Basalamah) atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Ust. Ali. Dalam sambutan beliau menyampaikan, “Kegiatan ini semata-mata bertujuan mengharap ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan dalam rangka memohon kepada selain Allah. Ada ulama yang mengatakan bahwasannya salah satu cara untuk menyelesaikan masalah maka berziarahlah ke Makam orang-orang Sholih di waktu yang sunyi (tengah malam), berdoalah kepada Allah di sana (di makam Orang-orang sholih) dengan niat yang baik, Insya Allah sepulangnya orang tersebut, Allah akan menyelesaikan masalahnya, meluaskan hatinya dan hati keluarganya.” Ungkap Ali.


Ziarah rutin malam Jum’at kliwon ini terbuka untuk umum sebagaimana disampaikan Ust. Ali, “Kegiatan ini merupakan kegiatan yang bagus, terbuka untuk siapa saja dan dari mana saja.” tambahnya singkat. Ziarah yang diikuti dari berbagai unsur termasuk kader-kader Ansor dan Banser Kecamatan Jatibarang ini selesai pukul 2 dini hari, dilanjutkan dengan acara mujalasah minum teh tubruk dan kopi duren hingga menjelang waktu Shubuh. (iz)

Penulis adalah Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Jatibarang, tulisan ini pernah dimuat di kompasiana oleh penulis dengan judul "Upaya tangkal corona dengan perbanyak dzikir dan munajat kepada Allah"




KH Hasyim Asy'ari dan Jaringan Santri Makkah Antikolonial Abad Ke-20













KH Hasyim Asy'ari dan Jaringan Santri Makkah Antikolonial Abad Ke-20






Jauh hari sebelum Indonesia merdeka, roh perjuangan telah menggelora di hati Hadhratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Sebagai sosok Wadhi’ Labinah Istiqlal Indunisiya, Peletak Dasar Kemerdekaan Indonesia, KH Hasyim Asy’ari dan jaringan internasionalnya meneguhkan tekad. Mereka berikrar untuk membebaskan umat Islam dari kungkungan penjajah di berbagai belahan dunia.



Sebelum pergi belajar ke Makkah, KH. Hasyim Asy'ari telah belajar agama di berbagai pesantren Nusantara, seperti Pesantren Sono dan Pesantren Siwalan Panji, yang terletak di Kota Sidoarjo. Demikian pula ia telah belajar di Pesantren Bangkalan Madura dan Pesantren Langitan Tuban. Oleh karenanya, sebelum keberangkatan pertama ke Makkah pada 1303 H/1892 M dan yang kedua pada 1304 H/1893 M, KH. Hasyim Asy’ari muda telah menjadi sosok santri yang sangat alim berkat belajarnya di berbagai pesantren Nusantara. Karena kematangan ilmunya, sampai di Makkah KH Hasyim Asy’ari relatif mudah berkomunikasi dan membangun jejaring internasional di antara kawan seangkatannya. Di sana Beliau tidak melulu menjalankan aktivitas belajar-mengajar. Beliau bahkan menggalakkan diskusi bersama teman-temannya seusai aktivitas belajar-mengajar tentang nasib dunia Islam yang sedang tertindas oleh bangsa asing pun. Selamat Harlah Mbah Yai....


Sumber: NU Online