Tampilkan postingan dengan label MDS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MDS. Tampilkan semua postingan

Tradisi Syrakalan & Mahallul Qiyam saat Muludan

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi dirayakan dengan berbagai tradisi di berbagai daerah dan negara di dunia. Suka cita, akulturasi agama dan budaya sangat kental terasa dalam perayaan tersebut. Secara umum, peringatan maulid Nabi diadakan pada bulan Rabiul awal (mulud/bulan kelahiran Nabi SAW) setiap tahunnya dengan memperbanyak membaca sholawat kepada Nabi SAW, puji-pujian, tradisi muludan dengan membaca kitab Al-Barzanji, Ad-Diba' (dibaan), burdah, manakib dan masih banyak kitab-kitab lainnya. Tradisi dibaan adalah tradisi pembacaan kitab maulid Diba' yang dikarang oleh Imam Ibn Diba'.
Tradisi Dibaan biasanya diisi dengan membaca kitab maulid dibah yang dipadukan dengan iringan alat musik seperti rebana wa akhwatuha, kegiatan ini biasanya dihadiri oleh kaum/jamaah pria semua umur, dari yang Bapak-bapak, pemuda, remaja, sampai anak-anak. Tradisi dibaan/muludan tidak hanya dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal saja, di banyak tempat dibaan dibaca di masjid/musholla tiap malam jum'at, alat musik pengiring yang digunakan pun berbeda-beda tiap tempatnya, ada yang hanya menggunakan empat buah rebana (jawa: terbang) atau di daerah penulis dikenal dengan istilah "kencer/genjring", ada yang menggunakan alat musik hadroh, dan masih ada beberapa musholla yang menggunakan Syrakalan seperti yang malam jumat kemarin (12/03/2020) dilaksanakan oleh kaum Musholla Al-Ikhya Desa Kertasinduyasa Kecamatan Jatibarang Brebes.
Srakalan merupakan tradisi pembacaan maulid diba' (dibaan) yang mengharmonisasikan syair-syair pujian kepada Allah dan Rasul-Nya dengan alat-alat musik seperti terbang jawa (rebana besar), induk, kencer, genjring dan kentung. Syrakalan merupakan kata serapan dari kata "Asyraqal" (bahasa Arab), atau lengkapnya Asyraqa Badru Alainaa dst, kalimat ini menjadi bacaan pembuka ketika para Jamaah Dibaan berdiri (mahallul qiyaam), sehingga kata Asyraqal oleh orang-orang jawa dulu disebut dengan Syrakalan.
Warga Nahdliyyin sudah akrab dengan istilah Mahallul Qiyam, berarti saatnya untuk berdiri. Berdiri untuk menghormati sesuatu sudah menjadi tradisi kita. Bahkan tidak jarang, orang berdiri untuk menghormati benda mati. Misalnya, pada waktu yang lain ketika bendera merah putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan maka seluruh peserta diharuskan berdiri. Tujuannya tidak lain hanya untuk menghormati bendera Merah Putih dan untuk menghormati para pejuang bangsa. Demikian pula dengan berdiri ketika membaca Dibaan. Itu adalah salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai hamba Allah yang paling mulia.
Selain acara muludan (di bulan Rabiul Awal) dan tradisi Dibaan/Muludan, Syrakalan juga diadakan pada moment-moment penting, seperti dalam acara Puputan/Walimatul-Aqiqah (sedekah potong kambing sekaligus pemberian nama terhadap bayi yang baru lahir), Arak-arakan Penganten, Arak-arakan Sunatan hingga menjelang anak disunat, Mudun Lemah (injak bumi) bagi balita yang mulai belajar berdiri, menyambut kedatangan tamu spesial, dan acara-acara hari-hari besar lainnya.

selengkapnya di :

Wafatnya para ulama pertanda ilmu-ilmu Allah mulai diangkat dari dunia ini



Jatibarang, Rois Syuriah NU Ranting Desa Tegalwulung Kecamatan Jatibarang, Bpk. KH. Salim Safar mengisi ngaji ke-NU-an dalam kegiatan rutinan Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor yang diselenggarakan oleh PAC GP Ansor Kec. Jatibarang Jum'at malam lalu (06/03) di Musholla Baiturrohim Desa Tegalwulung.

"Ulama-ulama NUsantara dalam menulis itu sangat produktif, lebih dari ribuan judul kitab hasil karya Ulama kita, bahkan beberapa skrip (teks) kitab ditemukan di luar negeri. Nama-nama ulama besar yang sudah dikenal oleh para ulama negara lain, sebut saja Syeikh Yasin Al Fadani, sang musnidul ashr. Banyak sekali ulama timur tengah yang mengambil sanad hadis darinya. Juga ada Syeikh Nawawi Al Bantani yang sangat masyhur di kalangan ulama luar negeri. Sehingga perlu kiranya kita semua sebagai generasi penerus untuk melestarikan tradisi keilmuan para ulama, caranya ya dengan mengadakan majlis-majlis pengajian seperti saat ini," ungkapnya.

"Karena Allah tidak akan mengangkat ilmu-ilmu yang ada di bumi secara langsung (tiba-tiba) begitu, dengan dicomot begitu, dengan dicabut, melainkan dengan mewafatkan para Alim dan para Ulama.  Beberapa waktu yang lalu kita kehilangan dua ulama besar, Mbah Maimun Zubair dan Gus Solahudin Wahid. Sekarang ini mumpung mesih ana ulama, Hayuh pada ngaji." Tambanya lagi.

Sementara di kesempatan yang sama Ketua PAC GP Ansor Kec. Jatibarang, Moh Ircham Arifudin menyampaikan ungkapan terimakasih kepada Ranting NU Desa Tegalwulung, pengurus Musholla Baiturrohim dan seluruh kader Ansor-Banser zona 1 (meliputi Ranting Desa Tegalwulung, Pamengger, Tembelang, & Kalipucang) yang telah bahu-membahu menyelenggarakan kegiatan rutin MDS Rijalul Ansor malam hari ini. "Kegiatan seperti ini akan kita duplikasi di zona 2, zona 3 & zona 4. Sehingga antar ranting bisa saling sinergi dalam ikhtiar revitalisasi nilai-nilai tradisi ke-NU-an" tandas ircham.
Kegiatan yang dihadiri puluhan kader Ansor-Banser zona 1 & beberapa ranting Ansor lainnya di kecamatan Jatibarang ini diawali dengan pembacaan Maulid Diba'i, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia raya dan mars Syubbanul wathon, Ngaji ke-NU-an, & diakhiri dengan Doa bersama untuk keselamatan bangsa. (iz)


#RijalulAnsor

#revitalisasiNilaiTradisi
#ngajikeNUan
#AnsorBanserBrebes

Ansor Brebes Sosialisasikan Instruksi PBNU Terkait Virus Corona



NU Online, Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Brebes, Jawa Tengah  meneruskan instruksi PBNU terkait pencegahan Virus Corona, yakni dengan memperbanyak membaca Sholawat Thibbil Qulub.

Ini kami lakukan dengan harapan, bangsa Indonesia bahkan masyarakat dunia terhindar dari marabahaya dan penyakit, salah satunya adalah Virus Corona," ujar Ketua Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor Brebes Moh Iqbal Tanjung rutinan MDS di Aula Gedung NU Ranting Kalijurang, Kecamatan Tonjong, Brebes, Selasa (3/3) malam.   “Kepada pengurus MDS Rijalul Ansor disemua tingkatan, untuk meneruskan perintah dari PBNU terkait Sholawat Thibbil Qulub,” ajak Iqbal yang juga anggota DPRD Brebes.


Menurutnya, tugas dan tanggung jawab Ansor tidak hanya mengawal dan melestarikan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah. Tetapi juga menjaga NKRI dalam hal ini menghadapi permasalahan negara yang salah satunya adalah ancaman Virus Corona. Seperti yang telah diberitakan oleh media massa tentang pengumuman yang disampaikan oleh Presiden Jokowi bahwa di Indonesia sudah ada 2 orang yang positif terkena virus corona.   

Dalam kegiatan MDS Rijalul Ansor, selain dzikir dan shalawat juga diskusi yang mengangkat tema-tema aktual yang terjadi di masyarakat. Di antaranya, Ketua PC Ansor Brebes Ahmad Munsip membahas langkah-langkah alternatif program sebagai solusi penanggulangan banjir sesuai dengan Nawacita Presiden Joko Widodo, yaitu Perhutanan Sosial.    


Dalam diskusi tersebut dibahas bahwa imbas bencana banjir selama 5 tahun berturut-turut di Brebes berasal dari hulu Sungai Pemali dan Cisanggarung. Hutan sebagian besar hulu di beberapa kecamatan di Brebes Selatan telah gundul.  

"Maka perlu ada komitmen bersama antara pemangku kepentingan dan elemen masyarakat dalam pelestarian lingkungan melalui intruksi Presiden Jokowi berupa Perhutanan Sosial," jelasnya.


Tampak hadir lebih dari seratus warga setempat dan kader Ansor-Banser di wilayah Brebes Selatan. Juga sejumlah tokoh MWCNU dan Badan Otonom NU Kec Tonjong, Pimpinan Cabang GP Ansor, Satkorcab Banser, Pengurus MDS Rijalul Ansor Kabupaten Brebes, dan beberapa perwakilan PAC se-Kabupaten Brebes serta undangan lainnya. 


Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/117486/ansor-brebes-sosialisasikan-instruksi-pbnu-terkait-virus-corona

Kyai Afifulloh : Betapa sakralnya NU, Jangan main-main dengan NU






Ngaji ke-NU-an merupakan salah satu sesi dalam kegiatan rutinan Majlis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor yang digelar di Masjid An-Nur Jatibarang Kidul pada Jum’at malam (28/02) oleh Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Jatibarang, meski dalam guyuran hujan sejak jum’at sore, kegiatan tersebut dapat terselenggara dengan lancar dan sukses, sekitar 180-an warga hadir di Masjid An-Nur. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Tokoh-tokoh masyarakat, Kepala Desa Jatibarang Kidul, perwakilan dari banom-banom NU, dan seluruh kader Ansor-Banser se-Kecamatan Jatibarang.

Acara diawali dengan pembacaan Maulid Nabi dan Tahlil masal yang di-imami oleh Habib Umar bin Salim Basyaiban, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, ngaji ke-NU-an dan doa bersama. Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Jatibarang, sahabat Moh Ircham Arifudin dalam sambutannya menyampaikan bahwa selama periode kepengurusannya akan difokuskan pada penguatan kapasitas (capacity building) Kader Ansor-Banser melalui program-program yang berbasis lifeskill. Selain itu, pelestarian tradisi-tradisi Ke-NU-an juga akan menjadi prioritas programnya.

Puncak dari kegiatan rutinan MDS Rijalul Ansor adalah ngaji Ke-NU-an yang disampaikan oleh Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Jatibarang, Kyai Afifulloh. Beliau menyampaikan banyak materi ke-Nu-an dihadapan jamaah yang hadir, dari mulai sejarah berdirinya NU, mengapa kita harus ber-NU, sampai beberapa cerita nyata (testimoni) kesakralan jamiyyah Nahdlotul Ulama’ yang didirikan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari pada tahun 1926 silam.

“Betapa sakralnya NU, Mbah Hasyim Asy’ari saat hendak mendirikan Jam’iyyah Nahdlotul Ulama’ melakukan riyadhoh, berpuasa, bertirakat, beristikhoroh, dan Beliau mimpi bertemu Rosulullah SAW sampai enam kali berturut-turut. Dalam setiap mimpinya, Rosulullah SAW menyampaikan pesan yang sama kepada Beliau: Bentuklah Aswaja. Sehingga NU merupakan jam’iyyah yang mendapat restu langsung dari Rosulullah SAW, jadi jangan main-main dengan NU (berbuat hal yang negatif), siapapun yang main-main dengan NU bakal kualat dan hidupnya tidak berkah”, ujar Kyai Afifulloh dengan penuh semangat.

Kegiatan MDS Rijalul Ansor putaran perdana ditutup dengan doa bersama yang di-imami langsung oleh KH. Farikhin Masyhadi (Rois Syuriah MWC NU Kecamatan Jatibarang). (iz)

Habib Umar bin Salim Basyaiban pimpin Muludan di MDS Rijalul Ansor Jatibarang


 
   

Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Jatibarang mengadakan kegiatan Majlis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor di Masjid An-Nur Jatibarang Kidul pada Jum’at malam kemarin (28/02). Selepas Isya, pembacaan Maulid Nabi dipimpin (di-imami) oleh Habib Umar bin Salim Basyaiban. Satu per satu jama’ah mulai hadir di Masjid An-Nur meski dalam kondisi hujan di sekitar masjid, suasana semakin khidmat saat mahalul qiyam, lantunan suara-suara nan merdu vokalis grup hadroh An-Nur “Ahbabunnabi” yang dipadukan dengan ritme pukulan rebana dan alat musik lainnya mampu membawa jamaah yang hadir ke dalam puncak kenikmatan bersholawat kepada Nabi, tanpa disadari banyak dari jamaah yang berurai air mata.

Setelah selesai sholawatan, Habib Umar bin Salim Basyaiban melanjutkan acara dengan Tahlil masal dengan lebih dari 300-an daftar Almarhumin yang ditawasuli/dikirim doa. Daftar tersebut merupakan para Almarhumin dari kaum Masjid An-Nur dan masyarakat setempat yang dikumpulkan sore sebelum acara, mereka berduyun-duyun menyerahkan list nama keluarga yang telah wafat untuk dikirimi doa, dikalangan warga Nahdliyin, tahlil masal merupakan hal yang sudah biasa dan sering dilakukan.

Acara dilanjutkan dengan ngaji ke-NU-an yang disampaikan oleh Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Jatibarang, Kyai Afifulloh. Beliau menyampaikan banyak materi ke-Nu-an dihadapan 180-an jamaah yang hadir, dari mulai sejarah berdirinya NU, mengapa kita harus ber-NU, sampai beberapa cerita nyata (testimoni) kesakralan jamiyyah Nahdlotul Ulama’ yang didirikan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari pada tahun 1926 silam.

Kegiatan MDS Rijalul Ansor ditutup dengan doa bersama yang di-imami oleh KH. Farikhin Masyhadi (Rois Syuriah MWC NU Kecamatan Jatibarang), turut hadir dalam kegiatan tersebut seluruh kader Ansor-Banser se-Kecamatan Jatibarang, perwakilan dari banom-banom NU, tokoh-tokoh masyarakat dan Kepala Desa Jatibarang Kidul yang baru dilantik. (iz)
 

Maulid Al-Barzanji : Kitab pemersatu dan pembangkit mahabbah kepada Nabi





Oleh : Tim media PC GP Ansor Kab. Brebes

Pada akhir abad ke-12 masehi, terjadi ekspansi besar-besaran tentara dari bangsa eropa dan telah berhasil menguasai Yerusalem, hal tersebut berdampak sebagian besar umat Islam kehilangan semangat perjuangan.
Umat Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan atapun kesultanan, dan mereka tak punya lagi semangat persaudaraan. Sejarah mengatakan, saat itu Salahuddin Al-Ayyubi (Mesir) muncul dan mempimpin perlawanan. Dia berhasil membangkitkan semangat juang umat Islam dengan cara membangun kecintaan (mahabbah) kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Salahuddin meminta agar setiap tahun umat Islam di seluruh dunia merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW secara masif. Itulah awal mula sejarah tradisi peringatan Maulid Nabi yang kita biasa peringati sampai saat ini.
Saat musim haji akhir abad ke-12 M (pertengahan abad ke-6 H) Salahuddin Al-Ayyubi menginstruksikan agar sekembalinya dari Makkah, para jamaah haji mensosialisasikan hari peringatan Maulid Nabi di daerahnya asalnya masing-masing melalui berbagai kegiatan yang meriah.
Tujuannya jelas membangkitkan solidaritas (persatuan) dan semangat perlawanan umat Islam. Dalam rangka mendukung gerakan tersebut, dipopulerkanlah sebuah kitab berisi syair-syair yang berjudul ‘Iqd Al-Jawhar fi Mawlid An-Nabiyyil Azhar atau lebih dikenal dengan kitab Maulid Al-Barzanji.Isinya sejarah kemuliaan kehidupan Rasulullah Muhammad SAW.
Kitab tersebut dikarang oleh seorang ulama yang bernama Syeikh Ja`far bin Husain bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji. Saat ini kitab tersebut lebih populer dengan nama kitab Al-Barzanji.
Kitab Al-Barzanji adalah salah satu kitab maulid yang paling populer dan paling luas tersebar ke pelosok negeri Islam. Kandungannya merupakan khulasah (ringkasan) Sirah Nabawiyah yang meliputi kisah kelahirannya, pengutusannya menjadi rasul, hijrah, akhlaq, peperangan hingga wafatnya.
Penggunaan bahasa puitis dalam pengisahan sejarah nabi menciptakan suasana mistis dan membangkitkan semangat spiritual pembacanya.
Bagi pembaca yang mengerti bahasa Arab fushah, merasakan betul betapa penulisnya secara dalam terpukau akan keagungan akhlak sosok Nabi Agung Muhammad SAW.
Ringkasnya, karya Al-Barzanji bukanlah sekedar tulisan untuk menjadi bacaan referensi, melainkan kumpulan gubahan kata-kata yang membangkitkan.
Keyataannya, pembacaan kitab Al-Barzanji dalam peringatan-peringatan Maulid Nabi yang digalakkan oleh Salahuddin Al-Ayyubi saat itu berhasil membangkitkan kesadaran akan persatuan umat Islam melawan tentara Crusader.
Salahuddin berhasil menghimpun kembali kekuatan umat Islam. Yerusalem dapat direbut kembali dari kekuasaan Crusades, Masjidil Aqsa dikembalikan lagi fungsinya sebagai masjid.
Berdasarkan semangat juang tersebut, telah menginspirasi Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Brebes dalam upaya membangkitkan semangat soliditas, solidaritas, integritas kader-kader Ansor melalui kegiatan rutin Majlis Marhaban Al-Barzanji yang diprogramkan oleh Pimpinan Cabang Majlis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor Kabupaten Brebes.
Ansor sebagai NU masa depan terinspirasi perjuangan Salahuddin Al-Ayyubi dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan umat, selaras dengan semangat GP Ansor dalam khidmahnya untuk Ulama, Agama dan NKRI.
Kegiatan rutinan Majlis Marhaban Al-Barzanji dilaksanakan setiap rabu malam kamis bertempat di Gedung NU Kabupaten Brebes. Kegiatan perdana telah dilaksanakan rabu malam (12/02), diawali dengan pembacaan Maulid Al-Barzanji dan dilanjutkan dengan pembahasan isi dan kandungan dari kitab tersebut mendapat respon positif dari puluhan kader Ansor-Banser yang hadir (perwakilan dari beberapa PAC GP Ansor wilayah Brebes utara dan tengah).
“Kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar kami untuk membangkitkan mahabbah kepada Nabi, disamping juga sebagai media silaturahmi dan konsolidasi antara Pengurus Cabang dengan Pengurus-pengurus Anak Cabang GP Ansor dalam menjaga dan merawat soliditas, solidaritas, integritas dan loyalitas kader.” Ungkap Ketua PC GP Ansor Kabupaten Brebes, sahabat Ahmad Munsip, S.Pd.I. (Ircham/Tfk)